Tanpa banyak disadari, penyedia layanan media sosial dan mesin pencari seperti Facebook, Google, Yahoo, Instagram, Twitter sebenarnya selalu mengawasi para penggunanya. Melalui olah algoritma dan teknologi cloud yang kian lama kian paripurna, raksasa teknologi digital itu mengumpulkan dan merekam identitas diri, kebiasaan dan perilaku (behavioral data) para penggunanya.
Elon Musk Hapus Akun Facebook Tesla dan SpaceX
Gara-Gara Rihanna, Snapchat Rugi Rp 11 Triliun
Geram Dijadikan Lelucon, Rihanna Tidak Akan Maafkan Snapchat
Mereka menyediakan berbagai aplikasi digital yang diberikan cuma-cuma, tetapi dengan aplikasi yang sama mereka mampu melacak di mana kita berada, kendaraan yang kita gunakan, restauran yang sering kita kunjungi, barang apa yang ingin koleksi, liburan ke mana yang kita dambakan, gangguan kesehatan yang kita hadapi, dan seterusnya.
Mereka meminjamkan server raksasa (cloud) untuk digunakan bersama-sama oleh para pengguna internet guna menyimpan beraneka data pribadi, tetapi diam-diam mereka memanfaatkan data-data itu untuk kepentingan bisnis mereka sendiri.
Facebook sebagai media sosial terpopular sejagad, menurut statista.com, digunakan 1,9 miliar orang di seluruh dunia pada 2017. Sebuah angka yang fantastis. Lebih fantastis lagi karena ini sama artinya Facebook menguasai data diri dan perilaku orang dengan jumlah yang sama.
Sejak pertama kali melakukan registrasi, semua pengguna Facebook sebenarnya telah berserah diri kepada Facebook. Demikian juga ketika kemudian secara aktif membuat status, menceritakan aktivitas sehari-hari, mengunggah foto, memberi komentar atau "like" atas status orang lain, kita sesungguhnya sedang membiarkan diri terekam dan teridentifikasi oleh Facebook.
Dalam kaitan inilah Shoshanna Zuboff, pada 2015 mengenalkan konsep surveillance capitalism. Kapitalisme yang senantiasa mengawasi dan memata-matai pengguna internet, untuk menghasilkan data perilaku yang dimaksimalkan untuk menunjang kepentingan partikular perusahaan media baru.
CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo)
Melalui penghitungan algoritma dan aplikasi kecerdasan artifisial, perusahaan media sosial atau mesin pencari mampu mengolah data perilaku penggunanya untuk menghasilkan prediksi pola konsumsi, keputusan, dan interaksi sosial pengguna tersebut.
Data perilaku bertransformasi menjadi surplus perilaku (behavioral surplus). Surplus perilaku inilah sebenarnya instrumen utama bisnis media baru sebagai obyek monetisasi aktivitas periklanan digital. Dapat dibayangkan, betapa besar potensi ekonomi data prediksi pola konsumsi dan interaksi sosial pengguna internet di seluruh dunia. Perlu digarisbawahi, surplus perilaku ini dalam tataran global secara oligopolik tersentralisasi pada segelintir korporasi global seperti Google, Facebook, Amazon.
Dalam konteks inilah kita perlu menempatkan kasus kebocoran data pengguna Facebook yang ramai belakangan. Seorang whistleblower bernama Christopher Wylie telah mengungkapkan, bahwa data sekitar 50 juta orang pengguna Facebook telah secara diam-diam digunakan perusahaan bernama Cambridge Analytica, untuk mendukung kampanye Donald Trump pada Pilpres AS tahun 2016.
Pada awalnya, data pengguna Facebook itu dikumpulkan melalui aplikasi thisisyourdigitalife yang dibuat akademisi Cambridge University, Aleksandr Kogan. Melalui perusahaan bernama Global Science Research yang bekerja sama dengan Cambridge Analytica, Kogan membayar ratusan ribu pengguna Facebook untuk melakukan tes kepribadian di Facebook.
Namun, aplikasi itu ternyata juga menyerap data teman-teman peserta tes yang akumulasinya mencapai puluhan juta data pribadi. Data itu ternyata kemudian bukan hanya digunakan untuk tujuan akademis seperti yang telah dijanjikan. Cambridge Analytica mengolahnya lebih lanjut untuk mendeteksi profil dan kecenderungan para pemilih dalam Pilpres AS, untuk kemudian menjadikan mereka sebagai sasaran iklan politik.
Boss Facebook, Mark Zuckerberg, telah meminta maaf kepada publik Amerika Serikat. Namun, secara implisit dia menyatakan kesalahan bukan pada Facebook, tetapi pada Cambridge Analytica.
Facebook merasa tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Benarkah demikian? Andaikan benar, berarti persoalannya adalah Facebook tidak mengetahui secara persis, bagaimana mengendalikan "mesin" yang telah mereka gunakan untuk meraih keuntungan ekonomi yang besar sekali dan telah membuat perubahan serius dalam hidup masyarakat.
Persoalannya sama gawatnya antara Facebook mengetahui atau tidak mengetahui skandal tersebut.
Sumber:liputan6.com||pojokqq

